ETOS KERJA

 

I.                  PENDAHULUAN

وعن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ليس بخيركم من ترك دنياه لآخرته ولاآخرته لدنياه حتى يصيب منهما جميعا فإن الدنيا بلاغ إلى الآخرة ولاتكونوا كلاعلى الناس (الديلمي، وابن عساكرعن أنس)

“Dari Anas r.a.berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: tidak baik bagi kalian meninggalkan dunia untuk akhirat dan meninggalkan akhirat untuk dunia sampai memperoleh keduanya sesungguhnya dunia adalah bekal untuk akhirat dan janganlah kamu menjadi beban untuk orang lain.

Hadits diatas menjelaskan apabila seorang manusia atau muslim mementingkan dunianya daripada akhirat atau sebaliknya maka perbuatan tersebut tidak baik. Seperti kalimat hadits diatas bahwasanya dunia adalah bekal untuk hidup, jadi disini manusia harus menyamai dunia dan akhirat. Saat urusan dunia lakukanlah urusan dunia seperti bekerja dengan niat yang ikhlas dan saat urusan akhirat maka lakukanlah dengan khusyuk.

Islam mencela orang yang mampu untuk bekerja dan memiliki badan yang sehat tetapi tidak mau berusaha keras. Seorang muslim harus dapat memanfaatkan karunia yang diberikan Allah SWT yang berupa kekuatan dan kemampuan diri untuk bekal hidup layak di dunia-akhirat. Etos kerja yang tinggi merupakan cerminan diri seorang muslim.[1]

 

II.               RUMUSAN  MASALAH

A.    Hadits tentang etos kerja beserta pembahasannya?

B.     Keutamaan rizqi yang halal?

C.     Tangan diatas lebih baik dari tangan di bawah?

 

III.           PEMBAHASAN

A.    Hadits Tentang Etos Kerja Beserta Pembahasannya

Etos kerja berarti semangat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja dengan niat tulus ikhlas untuk meneruskan hidup (harta). Jalan untuk memperoleh harta sangat banyak yaitu dengan memperoleh warisan, hibah dan shadaqah. Di samping lain dengan jerih payah sendiri seperti pedagang, pegawai, petani dan profesi lainnya. Seperti hadits dibawah ini:

عن المقدام رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ما أكَلَ أحَدٌ طَعامًاقَطٌ خيرا مِن أنْ يأ كُلَ مِن عَمَلِ يدِهِ، وإنّ نَبِيَ اللهِ داوُدَ عليهِ السلامُ يأكُلُ مِنْ عملِ يدهِ. (رواه البخاري وأبو داود وانسائي وغيرهم)

 “Diriwayatkan dari al-Miqdam r.a. dari Nabi SAW. bersabda: Makanan apa saja yang dimakan seseorang, adalah lebih baik memakan dari hasil usaha tangan sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Daud as. beliau makan dari hasil tangannya sendiri. (HR. Bukhori, Abu Daud, Nasai dan selain mereka).

 

Rasulullah mencontohkan bahwa Nabi Daud pun sebagai seorang rasul tetap bekerja keras tidak berpangku tangan. Padahal kalau dipikir-pikir sebagai seorang rasul tidak begitu susah beliau untuk sekedar mendapatkan keperluan hidup sehari-hari. Apalagi nabi Daud sebagai khalifah di muka bumi, tentu lebih mudah lagi untuk memenuhi keperluan hidupnya.[2]

Bekerja dari jerih payah sendiri ketika menikmati hasilnya (memakannya) akan terasa lebih nikmat dan bertambah bersyukur kepada Allah dari pada orang yang bekerja tidak menegluarkan tenaga sama sekali, mereka kurang adanya bersyukur.

Agar apa yang dikerjakan mendatangkan manfaat bagi orang lain, maka semunaya dipersiapkan sebaik-baiknya, mulai dari konsep, pembagian tugas, pelaksanaan dan evaluasi semua dilaksanakan dengan baik. Semua fasilitas kerja dan perangkat lainnya harus bisa menopang kepada tercapainya kemaslahatan yang diidamkan.[3]

 

B.     Keutamaan Rizqi yang Halal

Setelah membicarakan etos kerja di atas yang menyatakan seseorang harus bekerja dengan semangat. Selanjutnya akan dibahas tentang keutamaan mencari rizqi yang halal.

Mencari rezeki merupakan tuntutan kehidupan yang tak mungkin seseorang menghindar darinya. Seorang muslim tidak melihatnya sekadar sebagai tuntutan kehidupan. Namun ia mengetahui bahwa itu juga merupakan tuntutan agamanya, dalam rangka menaati perintah Allah untuk memberikan kecukupan dan ma’isyah kepada diri dan keluarganya, atau siapa saja yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Adanya kesadaran bahwa bekerja tidak ada tujuan lain kecuali untuk mendapatkan rizqi yang halal, tidak lebih dari itu. Seorang muslim yang baik takut mendapatkan rizqi yang tidak halal. Mereka memikirkan orang-orang yang merasa ditanggungnya seperti anak, istri orang tua dan lain-lain akan menikmati hasil kerja yang haram atau halal. Harta yang dikonsumsi akan menjadi darah sehingga semua sendi dalam tubuhnya akan terkontaminasi barang haram atau halal.

Rasulullah bersabda:

 

خَيْرُالكَسْبُ العامِلِ إذانَصَحَ.

Artinya: “sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seseorang yang bersih (tidak mencampur adukkan yang halal dan yang haram)”. (HR. Ahmad)

 Yakni pekerjaan yang dilakukan dengan tekun, dijauhkan dari unsur-unsur penipuan dan dikerjakan sebagaimana mestinya,[4]contoh: orang yang tidak korupsi.

Masih ingat, kisah si penggembala kambing yang membuat hati Umar bin Khattab tertegun? Itulah contoh orang yang berhati-hati soal harta. Uamr merayu agar menjual seekor kambing dari sekian ratus ekor kambing milik majikannya. Kalau ditanya, katakan bahwa kambingnya diterkam serigala, kata Umar memberi alasan. Umar jelas hanya “memancing” penggembala, bagaimana keimanannya. Betapa kaget bercampur syukur setelah penggembala tadi dengan tegas kepada Umar mengatakan, “Majikan saya memang tidak tahu, tetapi dimana Allah?

Sikap mental yang dikisahkan tersebut ada pada setiap insan yang mengaku iman kepada Allah. Kalau semua anak negeri memiliki komitmen seperti contoh diatas, dampaknya bagi keutuhan negara ini sangat besar. Kekayaan yang dikorup akan menyesengsarakan masyarakat dan hal tersebut sangat memalukan. Jika seseorang jujur, maka saat akan mengambil harta yang bukan hak milik kita hati nurani akan menolak perbuatan tersebut.

Kalau seseorang mendapat rizqi yang halal, maka akan datanglah kedamaian hidup dalam rumah tangga. Tidak ada perasaan waswas apalagi dikejar–kejar perasaan yang tidak jelas. Seolah ada saja pihak yang akan mempersalahkan setiap butir harta yang kita miliki sebab hal itu akan diperoleh dengan cara yang tidak benar sehingga hartanya pun tidak halal.[5]

Tentu mencari yang halal merupakan kewajiban atas setiap muslim, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Qudamah dalam kitabnya Mukhtashar Minhajul Qashidin: “Ketahuilah bahwa mencari yang halal adalah fardhu atas tiap muslim.” Karena demikianlah perintah Allah di dalam ayat-Nya dan perintah Rasulullah dalam Haditsnya, sebagi berikut:

$yg•ƒr¯»tƒâ¨$¨Z9$#(#qè=ä.$£JÏB’ÎûÇÚö‘F{$#Wx»n=ym$Y7Íh‹s۟wur(#qãèÎ6®Ks?ÏNºuqäÜäzÇ`»sÜø‹¤±9$#4¼çm¯RÎ)öNä3s9Ar߉tãîûüÎ7•B(168) 

 

 

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

 

 

Hadits lainnya adalah:

“Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik, dan sungguh Allah perintahkan mukminin dengan apa yang Allah perintahkan kepada para Rasul, maka Allah berfirman: ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan’ dan berfirman: ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu. Lalu Nabi menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya kusut masai, tubuhnya berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berucap: ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, disuapi gizi yang haram, bagaimana mungkin doanya terkabul?” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)

 

C.     Tangan di Atas Lebih Baik dari Tangan di Bawah

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: اليَدُ العُلْيَاخير مِن اليَد السُّفْلَى وَابْدَأْ بمَن تَعُولُ وخيرالصدَقَةِ عن ظَهْرِ غِنًى ومَن يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ ومَن يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ.

Nabi bersabda: “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, mulailah orang yang wajib kamu nafkahi, sebaik-baik sedekah dari orang yang tidak mampu, barang siapa memelihara diri (tidak meminta-minta) maka Allah akan memeliharanya, barangsiapa yang mencari kecukupan maka akan dicukupi oleh Allah.”

 

Maksud hadits tersebut tidak berarti memperbolehkan meminta-minta, tetapi memotivasi agar seorang muslim mau berusaha dengan keras agar menjadi tangan di atas, yaitu orang yang mampu membantu dan memberi sesuatu pada orang lain dari hasil jerih payahnya. Bagaimana mungkin dapat membantu orang lain  jika untuk memenuhi dirinya sendiri tidak mencukupi. Bagaimana mungkin mencukupi dirinya sendiri apabila tidak mau berusaha bekerja keras. Seseorang akan membantu sesama dapat membantu sesama apabila dirinya telah berkecukupan. Seseorang akan berkecukupan jika ia mempunyai pengahsilan lebih. Seseorang akan dapat penghasilan lebih jika berusaha dan baik. Karenanya bekerja harus disertai etos kerja tinggi.[6]

Seorang muslim tidak boleh memperlihatkan ketidakberdayaannya, tetapi memeperlihatkan kemampuannya baik fisik maupun mental.

Seorang pengemis kemampuan fisik kuat tetapi mentalnya lemah (mental budak). Mental budak walaupun dimarahi, diejek, dicuekin merasa tidak malu.  Seorang pengemis termasuk tidak mensyukuri nikmat Allah yang diberikan berupa tenaga, pikiran, kemampuan dan sebagainya. Dia hanya meminta belas kasihan padahal dia bisa menggunakan tenaganya walaupun penghasilannya tidak seberapa.

Hadits tentang balasan menjadi profesi pengemis

عن عبدِاللهِ بنْ عُمريقول,قال رسول الله ص.م. : مايَزالُ الرجُلُ يَسْئَلُ الناسَ حتى يأتِيَ يَوْمَ القيامةِ وليس فى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

Dari Abdullah bin Umar ra. berkata, bersabda Rasulullah: “Orang yang biasa mengemis itu akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak dengan muka yang tanpa daging sedikitpun.”

Hadits lain tentang mengemis

عن أبي هريرة يقول قال رسول الله ص.م. :لَأَنْ يَحْتَزِمَ أحَدُكُمْ حُزَمَةً مِن حَطَبٍ فَيَحْمِلَها على ظَهْره فيَبِيعَهاخيرلهُ مِن أنْ يَسْالْ رَجُلا يُعْطِيْهِ أوْ يَمْنَعُهُ.

Dari Hurairah r.a. katanya, bersabda Rasulullah SAW: “Mencari kayu bakar seberkas, lalu dipanggul terus dijual, lebih baik daripada mengemis kepada orang lain; diberinya atau tidak.” [7](bku shahih muslim 65)

Pekerjaan pemulung lebih baik daripada pengemis, karena pemulung tiap hari mulai bekerja pagi sampai sore mengais sampah-sampah yang berserakan dan di tong sampah, barang tidak terpakai kemudian ia jual dan hasilnya buat makan. Dibanding pengemis yang mencari rizqi dengan muka belas kasihan, tidak mengeluarkan tenaga hasilnya buat makan atau untuk menambah harta kekayaan.

Manusia pemalas dan berpangku tangan lebih rendah derajatnya dari seekor ayam yang sudah mengai-ngais makanan di pagi hari. Jadi yang menurunkan derajat manusia adalah manusia itu sendiri.

 

 

IV.             KESIMPULAN

Etos Kerja merupakan semangat dalam bekerja, mereka yang bekerja akan bersungguh-sungguh dengan niat ikhlas dan mencari ridlo Allah. Berhubungan dengan etos kerja seseorang akan mencari rizqi yang halal apabila iman kepada Allah, dia akan takut apabila curang mendapatkan rizqi yang tercampur haram. Dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat dalam hidup yaitu bekerja dengan menggunakan kemampuan sendiri baik fisik maupun mental maka orang itu bisa menjadi tangan di atas. Jika orang hanya berpangku tangan dan lemah dalam mental seperti pengemis, orang itu termasuk memalukan dirinya sendiri dan merendahkan martabat manusia.

 

 

 

V.               PENUTUP

Sekian kiranya paparan makalah dari kami, banyak kesalahan baik dari segi penulisan   ataupun referensi dan materi-materi lainnya kami berharap Allah SWT. memberikan ampunan kepada kami dan kepada pembaca sudi kiranya memberikan kritik dan sarannya.


[1] Ilfi Nur Diana, Hadits-hadits Ekonomi, (Malang: UIN Malang Press (anggota IKAPI), 2008), Cet. I, hlm. 210.

[2] M. Ali Hasan, Mengamalkan Sunnah Rasulullah, (Jakarta: Prenada Media, 2003), Cet. I, hlm. 63.

[3] Soejitno Irmim dan Soeharyo AP, Jika Bekerja Seperti Shalat, (Seyma Media, 2005), Cet. I, hlm. 26.

[4] Abu Ridho, Terjemah Mau’idhotul Mukminin, (Semarang: CV. Asy syifa’, 1993), hlm. 231

[5] Soejitno Irmim dan Soeharyo AP, Ibid, hlm. 30.

[6] Ilfi Nur Diana, Opcit, hlm. 209-210

[7] A. Razak dan Rais Lathief, Terjemahan Hadits Shahih Muslim, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1980), hlm. 65.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s